Stalking Adalah Penyakit. Anda Setuju?

Stalking Adalah Penyakit. Anda Setuju?

Stalking. Kata ini mungkin seringkaliĀ kita baca atau kita dengar dari dunia maya. Apa sih sebenarnya arti dari stalking? Stalking menurut google translate berarti menguntit. Menguntit itu kurang lebih memiliki makna yang sama dengan memberikan perhatian lebih, memantau, memata-matai seseorang. Penggambaran seseorang disini tidak hanya terbatas pada fisik orang tersebut, namun bisa segala hal yang berhubungan dengan orang tersebut. Misalnya alamat rumah, akun media sosial, dan lain sebagainya. Stalking mempunyai makna yang negatif. Biasanya stalking adalah perhatian yang tidak diharapkan dari seseorang. Bisa juga menyerupai gangguan. Jadi apakah stalking adalah penyakit? Yuk kita simak artikel berikut ini.

Stalking Adalah Penyakit

Stalking Adalah Penyakit. Masa Sih?

Stalking dapat didasarkan dari berbagai macam motif, salah satunya adalah sifat obsesi yang berlebihan. Pelaku adakan memberikan perhatian lebih kepada orang lain (calon korban) dengan tujuan untuk memiliki kedekatan dengan orang tersebut. Hal itu bisa dimulai dari hal sederhana sepertiĀ informasi-informasi yang bersifat personal dari sang korban seperti nomor telepon, ukuran pakaian, alamat email, nama lengkap dan lain-lain yang cenderung sifatnya privasi. Stalker (orang yang melakukan stalking) juga akan berusaha mencari informasi tentang jati diri korban melalui berbagai media informasi misalnya di internet melalui akun media sosial. Bahkan ada yang sampai mendekati orang-orang dekat dari korban untuk mendapatkan informasi sang korban.

Stalker memiliki sifat kepercayaan yang salah dalam dirinya. Stalker memandang para korbannya itu lemah dan buruk sehingga kepercayaan sesat itu dirasa pantas untuk diikuti oleh akal sehat mereka. Perilaku manipulatif merupakan senjata ampuh bagi stalker. Mereka melakukan hal tersebut karena merasa tindakan itu bersifat legal namun sebenarnya penuh dengan gangguan.

Stalker itu tidak selalu terbatas pada pria saja. Wanita pun banyak yang menjadi stalker. Apalagi dalam menjalani sebuah hubungan yang memiliki tingkat kepercayaan yang sangat rendah. Mereka bisa saling curiga dengan pasangannya, sehingga untuk membuktikan kecurigaan tersebut, maka mereka harus stalking pasangan mereka dengan cara apapun. Yah kurang lebih seperti yang sudah dituliskan di atas.

Korban stalking itu bermacam-macam jenisnya. Modusnya juga banyak sekali. Yang paling banyak menjadi korban adalah mantan kekasih, pacar dan gebetan.

Mantan Kekasih

Mantan ada di urutan pertama karena rasa tidak percaya akan berakhirnya hubungan mereka. Umumnya mereka melakukan stalking untuk memeriksa kehidupan pasangannya setelah putus dengan pasangannya. Apakah dia bahagia tanpa mereka? Apakah mereka sudah punya kekasih baru? Kekasih barunya seperti apa? dan terus dan terus lagi.

Gebetan

Stalking gebetan ini merupakan sesuatu yang harus dilakukan saat kita sedang dalam masa PDKT atau pendekatan. Kalau kata orang tua untuk mengetahui bibit, bebet dan bobot dari calon pasangan kita. Suka kepo dengan status di media sosial adalah salah satu bentuk stalking secara halus. Semua status calon gebetan dibalas tanpa ada satupun yang terlewatkan.

Pacar

Kenapa pacar ada di urutan terakhir? Ya, karena pacar itu harusnya saling percaya. Tidak perlu ada saling curiga satu dengan yang lain. KECUALI, kalau lagi berantem. Biasanya kalau lagi ngambek atau berantem kan tidak ada komunikasi satu dengan yang lain. Nah yang bisa dilakukan hanya mengikuti terus akun media sosialnya. Liat terus setiap saat. Setiap jam kalau perlu. Sedang ngapainkah sang pacar saat itu. Dan seterusnya.

Jadi setelah membaca uraian di atas, apakah anda setuju kalau stalking adalah penyakit? Kalau menurut penulis pribadi sih, stalking adalah sifat keingintahuan saja. Tidak akan berbahaya apabila dilakukan dalam batas yang wajar. Namun apabila sudah tidak terkendali, maka itu bisa membahayakan orang lain dan layak disebut dengan kelainan. Semoga artikel ini bisa memberikan informasi untuk para pembaca semua. Sampai jumpa lagi pada artikel berikutnya.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *