Pengusaha Asal Balikpapan yang Sukses di Pengolahan Kayu

Pengusaha Asal Balikpapan yang Sukses di Pengolahan Kayu

PROKAL.CO, Kehidupan ini tak ubahnya roda pedati yang berputar. Kadang di bawah, kadang di atas. Begitu juga kehidupan seorang Sie Velly Ongkowijoyo. SENIN (19/10) pagi itu pukul 08.45 WIB, Sie Velly Ongkowijoyo sudah menunggu di lobi Hotel Noormans, Jalan Teuku Umar, Semarang. Kami, rombongan Jawa Pos Group (JPG) yang terdiri dari H Zainal Muttaqin, wakil presiden komisaris Kaltim Post sekaligus dirut PLTU PT Cahaya Fajar Kaltim (CFK), lalu Suhendro Boroma dirut Manado Post yang juga dirut JPG, Suparno Wonokromo dirut Sumatera Ekspres, Yanto Purwogiyanto dirut Radar Cirebon, Sukron direktur Radar Tegal, saya sendiri Ivan Firdaus dirut Kaltim Post, serta Mamad Suhadi pegusaha asal Papua jual bibit sengon solomon.

Tepat pukul 09.00, dipimpin Sie Velly, rombongan kami bergerak dengan tiga mobil, Toyota Fortuner, Mitsubishi Pajero Sport, dan Toyota Rush menuju Jalan Soekarno-Hatta Km 30 Nomor 55, Kabupaten Semarang. Tidak sampai 30 menit, tibalah kami di tujuan: kantor pusat PT Kayu Sengon Industri yang merupakan perusahaan pengolahan kayu sengon. Dari depan, hanya terlihat pintu gerbang yang ukurannya tidak lebih dari 10 meter. Pos jaga ada di sisi kiri. Setelah masuk 100 meter, tampak bangunan dengan kontur tanah berbukit. Bangunan itu tampak disesuaikan dengan kontur, sehingga ada yang dua lantai yang disanggah tonggak beton. Nah, di sisi kanan, terhamparlah ribuan kubik kayu sengon dengan diameter 20-30 cm dengan panjang 130 hingga 200-an sentimeter.

Di lantai dua, di samping perkantoran, juga terdapat tumpukan kayu dalam proses masih potongan. Di sisi kiribelakang, terdapat bangunan ukuran 15×15 meter tempat pengeringan kayu atau drying wood. Sedangkan, sisi tengah bangunan diperuntukkan kayu olahan yang sudah jadi dan tertata rapi. Ada jalur rel yang terhubung hingga bisa langsung loading ke kontainer. Ini adalah pabrik ketiga yang dimiliki Sie Velly Ongkowijoyo. Pria ini lahir 58 tahun lalu di kawasan Gunung Kawi, Balikpapan. Velly putra Sie Kun Liong, seorang pedagang kelontong. Dia anak kedelapan dari sembilan bersaudara. Kakak keduanya adalah guru sekolah menengah pertama Tionghoa tahun 1960-an di kawasan Pasar Baru, Balikpapan.

Dulu, pertengahan 1990-an adalah masa yang berat bagi bisnis Velly. Dia punya tanggungan utang hingga Rp 300-an juta. Ini membuat Valley harus meninggalkan Balikpapan dan hijrah bersama keluarganya ke Surabaya tahun 1996. Tak mudah bagi Valley menjalani kehidupan di Kota Pahlawan. Pada tiga tahun pertama, dia mesti dua kali berpindah tempat kerja. Dari pabrik mebel rotan hingga pabrik pengolahan kayu. Ekonomi keluarganya juga tidak berubah banyak. Dengan berat hati, tahun 1999, ia mengambil keputusan penting: meninggalkan istri tercintanya Thiao Huilyana dan dua anaknya (kala itu anak pertama David Ongkowijoyo masih berusia 10 tahun dan Winda Ongkowijoyo 8 tahun). Velly hijrah ke lagi ke Temanggung, Jawa Tengah.

Sedangkan istri dan kedua anak, untuk sementara, tetap tinggal di Surabaya. Di Temanggung, Velly bergabung ke sebuah perusahaan asing yang bergerak tidak jauh dari industri perkayuan, yaitu pengolahan kayu sengon atau albasia. Ini dilakoninya hingga empat tahun. Selama itu pula, setiap sebulan sekali, dia pulang-pergi Surabaya-Temanggung untuk menjenguk keluarga. Peruntungannya membaik di kota berpenduduk 700 ribu jiwa itu. Setelah memiliki pengalaman di usaha pengolahan perkayuan, Valley memulai usaha trading kayu olahan dan dijalaninya hingga lima tahun. Dan, ternyata lancar. Roda pedati kembali berada di atas. Satu demi satu utang (total Rp 300-an juta) yang ditinggalkannya di Balikpapan berhasil dilunasi.

Valley kemudian melakukan ekspansi. Tahun 2008, dia mendirikan pabrik pengolahan kayu sengon pertamanya. Lokasinya, ya, di Jalan Soekarno-Hatta Km 30 Nomor 55 Semarang, itu, dengan sekitar 650 karyawan. Kini, di sisi kiri depan areal ini, terdapat tanaman pohon sengon yang tingginya antara 10-12 meter dengan diameter sudah mencapai 20-30 cm. Berselang dua tahun, pabrik kedua di Jalan Raya Kranggan Pringsurat Km 5 Temanggung didirikan dengan mempekerjakan 300 karyawan. Seperti mata air yang terus mengalir, dua tahun kemudian pabrik ketiga kembali didirikan. Jaraknya hanya 2 km dari pabrik pertamanya, tepatnya, di Jalan Soekarno-Hatta Km 32 Semarang dengan mempekerjakan 700 karyawan.

Dalam kondisi fluktuasi rupiah terhadap dolar saat ini, bisnis Valley BOLEH dibilang tetap berkibar. Pasalnya, dari tiga pabrik yang dimiliki, semuanya menjadikan luar negeri sebagai pasar. Antara lain, Jepang, Hong Kong, Korea, Singapura, dan Thailand. Anak keduanya, Winda Ongkowijoyo, dipercaya memegang pabrik kedua di Temanggung dengan produksi kayu olahan jenis blockboard. Tujuan penjualannya adalah Tiongkok. Sementara, dua pabrik di Jalan Soekarno-Hatta Semarang dipegang anak pertamanya David Ongkowijoyo dengan produksi jenis plywood yang semua bahan bakunya dari kayu sengon atau albasia. Rata rata 100 kontainer per bulan dikirim ke luar negeri. Ini setara USD 2 juta atau Rp 27,2 miliar (kurs USD 1 = Rp 13.643). Untuk 100 kontainer tersebut diperlukan 25.000 batang sengon per bulan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *